Ramadhan (1430 H) True Story #1 : “Mualaf itu bernama Edo”

 

Saturday, August 22, 2009 at 11:36pm

Sore itu diri ini tengah bergelut dengan komputer dalam kamar berukuran 3 X 3 m2 di sebuah asrama bernama Darul Insan. Tangan kananku lincah memainkan mouse berwarna orange kesana-kemari. Sementara tangan kiri di keyboard sesekali menekan tombol shortcut program Adobe photoshop. Sebuah desain kaos sedang kurancang untuk menambah koleksi desain usaha yang coba aku geluti saat ini. Ya, kaos dengan desain islami untuk muslim gaul dengan merek ”qaosqu”. Telah lama aku mengimpikan mampu menciptakan desain kaos muslim gaul dan memproduksinya. Alhamdulillah, Allah baru saja menunjukkan jalannya setelah sekian lama menanti, meski masih dalam kapasitas kecil dan modal pas-pasan.

”Mas, ada tamu di luar.. ”, kata Andi mahasiswa baru yang belum lama tinggal bersama di asrama ini.
”Oh ya, sebentar..”, kuhentikan aktivitasku dan beranjak keluar kamar.
”Assalamu’alaikum…”, sapa pemilik suara di luar begitu melihatku.
”Wa’alaikumsalam…, Rully!”, jawabku sembari memperkenalkan diri dan menjabat tangannya.
”Edo mas…”
”Oh… ya… Edo! Yang dulu nginep di sini waktu tes SNMPTN khan??”, tanyaku memastikan.
”Betul mas!”.

Sosok tinggi besar di hadapanku sempat tidak kukenali mengingat banyak sekali calon mahasiswa baru yang numpang menginap di asrama selama tes masuk perguruan tinggi berlangsung. Namun nama Edo terasa tidak asing bagiku terlebih saat aku bertanya pada Susanto, teman satu kamar, beberapa hari yang lalu.

”Akh, jadi selain Andi, Ferdi dan Jalmo, siapa lagi maba yang jadi tinggal di sini?”, tanyaku.
”Insya Allah, Edo mas..”, jawab Susanto selaku Mas’ul Asrama. “Jadi total ada empat orang”.
Dari situlah aku menyimpan memori nama Edo di otakku. Dan kini pemilik nama tersebut telah ada di depanku.

”Mas Edo sendirian?”, tanyaku kemudian.
”Ehmm… sebenernya sama Umi mas…”
”Lho, terus mana Uminya?”.
”Di belakang terjebak macet”.
”Koq ngga bareng?”
”Iya mas, aku naik motor, Umi naik mobil”.
”Ooh..ayo masuk…”
, ajakku memasuki rumah yang terbilang sederhana namun terasa nyaman bagi kami para penghuninya.
”Mas Edo aslinya….”
“Sidoarjo mas…”
, belum selesai aku berkata ia sudah meneruskan kalimatku. Sepertinya nada suaraku yang panjang terbaca olehnya bahwa aku lupa dan mencoba mengingat.
”Oh ya Sidoarjo”,ternyata aku benar-benar lupa daerah asalnya.

Belum lama kami berbincang, tiba-tiba nampak dua sosok di depan pintu rumah yang masih asing bagiku. Seorang Bapak separuh baya dengan anak muda yang kutebak adalah anaknya.

”Sebentar… mas Edo ya!”, pamitku meninggalkan ia sejenak untuk menemui dua orang tamu di depan.
”Iya mas…”
”Assalamu’alaikum…,Rully!”
”Wa’alaikumsalam…”
, jawab mereka hampir berbarengan.
”Kulo Bapa’e Nggoro”, sang bapak membalas jabatan tanganku.
”Nggoro mas…”
”Rully…”, kujabat juga tangannya sembari memperkenalkan diri.
”Wah saking pundi niki…?”, tanyaku membuka percakapan.
”Saking Bojonegoro”, jawab sang bapak. Sang anak terlihat lebih diam dan sedikit malu. Mungkin masih canggung.
”Lho, sepeda’an pak saking Bojonegoro?”, tanyaku setelah melihat motor Suzuki Thunder berwarna biru terparkir di depan rumah.
”Inggih, macet niku teng Krian ”.
”Ooh…nyuwun ngapunten, tahu tempat ini dari mana ya?”, tanyaku dengan bahasa campuran. Ya, diri ini memang tidak mahir berbahasa jawa, terlebih jika harus kromo dan menghadapi orang yang lebih tua. Jadi aku berpikir lebih baik dengan bahasa Indonesia.
”Dari mas Susanto, rencananya mo tinggal di sini”, kali ini sang anak menjawab. Ia sudah terlihat lebih rileks.
Lho bukannya yang jadi tinggal di sini Andi, Ferdi, Jalmo dan Edo?, batinku dalam hati. Lha ini namanya Nggoro, apa Susanto terlewatkan satu nama? Wah melebihi batas nih!.

”Ooh… dari mas Susanto ya…?”, tanyaku dengan masih menyisakan kebingungan. ”Sebentar kalo gitu..”. Ku ambil HP bermerek LG dari dalam saku celanaku. Kemudian kutelepon Susanto yang seharian keluar meminjam sepeda motorku. Pamitnya mau ke BAZ Jatim.
”tuut…tuuut…tuuut….”, telepon tidak diangkat juga.
”Oh maaf, koq malah di luar.. monggo..monggo masuk…”, kupersilahkan dua orang tamu tersebut memasuki rumah setelah tidak ada jawaban dari Susanto. Tak lama berselang, nada sms HP ku berbunyi. Ku baca pesannya, hanya bertuliskan:
Ya akh
21/08/2009
05:35 PM
From: Susanto.

”Allahu Akbar..Allahu Akbar..!”, gema takbir berkumandang memecah keheningan langit Surabaya senja itu. Maghrib telah tiba, pertanda awal Ramadhan telah dimulai. Alam nampak ceria dengan balutan langit biru nan cerah. Semilir angin berhembus lirih seolah turut menyapa bulan nan suci ini.

”Allahu Akbar… mari kita solat dulu, atau jika mau bersih diri, monggo langsung ke kamar mandi di belakang…”, kutawarkan pada Nggoro dan bapaknya yang terlihat lebih letih dengan peluh di wajahnya. Dapat kumaklumi perjalanan dari Bojonegoro-Surabaya menggunakan sepeda motor pasti melelahkan, terlebih saat macet. Namun Edo yang terlihat lebih segar langsung kuajak solat berjamaah di mushola Muzdalifah dekat asrama. Ya, Sidoarjo sangatlah dekat dengan Surabaya. Perjalannannya pasti tidak selelah dari Bojonegoro.

”Monggo kalo mo wudlu di sini”, kataku memandu dan mempersilahkan semua tamuku.

Akhirnya semua bergegas berjalan menuju mushola, kecuali Nggoro dan Bapaknya yang memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Tak lama kemudian suara knalpot dari sepeda motor yang sangat kukenali terasa semakin mendekat. Tampak Susanto mengendarai sepeda Honda Grand’95 milikku dengan sedikit tergesa. Entah tergesa karena Maghrib atau tergesa karena tadi kutelepon.

”Akh, klo antum ga keberatan antum temenin dulu Nggoro dan bapaknya solat jamaah di rumah. Mereka mo mandi dulu. Ane nemenin adik-adik yang lain ke mushola. Gimana?”, tanyaku.
”Iya akh,”, jawabnya ngos-ngosan bermandikan keringat di wajahnya saat helm di buka.

Dalam perjalanan menuju mushola, Andi, Ferdi, Winarto, Faris, Roni nampak berada di depan kami, aku dan Edo. Praktis perbincanganku hanya bisa dengan Edo.

”Mas Edo keterima lewat jalur apa?”
“PMDK mas”
, jawabnya singkat.
”Daftar SNMPTN juga?”
”Iya mas, tapi ngga keterima”
”Pilihannya pertamanya apa? ”
”Teknik Informatika ITS”
”Yang kedua?”
”Matematika Unesa, juga ngga keterima”
”Nah sekarang keterima di jurusan apa?”
”Fisika mas”
”Yang pendidikan?”
”Iya”
, sosok berkacamata dengan kulit putih itu nampak semakin santai menjawab pertanyaanku. Kami pun bertambah akrab.
”Dulu dari SMU?”
”Iya mas”
”SMU mana?”
”SMU N 3 Sidoarjo”
”Oohh…”
, jawabku sok tahu, padahal tidak paham sama sekali tentang SMU N 3 Sidoarjo.
”Dulu aktif di mana?”
”Ehmm… saya mualaf mas”
, jawabnya tiba-tiba.
”Subhanallah… Alhamdulillah….”

Entah mengapa ia menjawab seperti itu. Padahal aku pikir pertanyaanku tidak menjurus tentang keislaman. Apa karena ia sempat melihat mading kami di asrama yang penuh dengan tulisan kajian Islami? Dan juga serangkaian jadwal aktifitas keislaman lainnya? Atau cara berpakaian kami yang sebagian besar menggunakan busana muslim? Namun mendengar jawabannya, hati ini terasa berdesir. Ada perasaan haru dan bangga setiap kali aku mendengar kisah mualaf ataupun ikrar yang diucapkan mereka. Terlebih beberapa bulan belakangan banyak yang menyatakan ikrar sebagai seorang muslim atau muslimah di Masjid Takhobar. Masjid ini jaraknya lebih jauh daripada Mushola Muzdalifah. Selalu saja air mata ini tak terbendung saat mendengar seorang yang ingin masuk Islam mengucapkan dua kalimat syahadat.

”Assyhadu Alla ilahaillallah Wa Asshyadu Anna Muhammadar Rasulullah”, meski terbata-bata mereka mengucapkan dengan penuh kesungguhan. Dan pemandangan itu selalu membuat mataku leleh dengan air mata hangat hingga dada ini terisak lirih menahan haru.

”Maaf, mas Edo sudah berapa lama jadi mualaf?”, tanyaku kemudian.
”Ehmm… sekitar… satu tahun empat bulan mas…”, jawabnya memastikan.
Allah Ya Rabb… masih muda sekali usia keislamannya. Namun tidak nampak kecanggungan dari sorot mata di balik kacamata kecilnya. Iya tidak merasa minder dengan keislaman yang masih belum lama itu.
”Ehmm… keluarga… juga… mualaf semua?”, tanyaku lebih berhati-hati. Khawatir menyinggung perasaannya.
”Belum semua mas… Klo Umi dah lama, klo Papa belum.”

Satu hal yang membuatku tidak menyangka ia seorang mualaf adalah ia menggunakan kata Umi untuk panggilan ibunya sejak awal perbincangan kami. Sebutan Umi biasanya lebih lazim digunakan oleh keluarga berlatar belakang Islam yang kuat atau taat. Atau setidaknya sudah cukup faham dengan keislaman. Sedangkan untuk memanggil ayah, biasanya menggunakan panggilan Abi. Agak terasa aneh saat dia mengatakan Umi, sementara memanggil ayahnya dengan Papa. Namun aku berpikir, itu awal yang baik untuk menanamkan budaya Islam dalam keluarga Edo yang aku yakin sang Umi yang mengajarkannya.

Tak terasa, sampailah kami di depan pintu Mushola Muzdalifah. Jamaah kali ini terasa berbeda dengan beberapa hari sebelumnya. Ya barisan shaf terlihat penuh hingga mendekati bagian pintu masuk mushola. Sayang, kami tertinggal 1 rakaat.

bersambung…..(#2: “Nggoro Ya Jalmo”)

–rullyaguscandra–


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s