Ramadhan True Story (1430 H) #2: “Nggoro ya Jalmo”

Monday, August 24, 2009 at 10:10am

sambungan… (#1: “Mualaf itu bernama Edo”)

 

Aku merasakan semakin mengenal Edo lebih dekat dari perbincangan kami dalam perjalanan pulang selepas solat Maghrib. Ia memiliki seorang saudari yang masih kelas 6 SD. Uminya dalam perjalanan ke Surabaya menggunakan mobil bersama paman dan saudari kecilnya. Mereka belum pernah ke asrama Darul Insan sebelumnya, namun Edo meyakinkanku bahwa mereka janjian bertemu di depan kantor Telkom Divre V Jatim yang tidak jauh dari kampus Unesa.

Sesampainya di asrama, kupersilahkan para anggota asrama yang lain untuk saling berkenalan. Mereka tampak ceria. Tak jarang tawa renyah dan senda gurau keluar dari mulut mereka. Belum semua anggota hadir, jadi kuputuskan perlu adanya forum perkenalan tersendiri ba’da solat tarawih saja.

Kutinggalkan mereka sejenak untuk memulai tilawah di bulan Ramadhan ini. Kuputuskan mulai dari Juz pertama, meski tilawah harianku sebelumnya sudah memasuki Juz ke-26. Ya kuberi tanda pada masing-masing batas bacaan. Aku hanya merasa sangat bersemangat saat dimulai dari Juz pertama di awal Ramadhan. Lalu bagaimana dengan kelanjutan tilawah hariannya sebelumnya? Insya Allah tetap akan aku lanjutkan di bulan Ramadhan ini juga. Aku hanya ingin memulai hari pertama Ramadhan dengan awal bacaan Al-Qur’an, itu saja. Sehingga pada saatnya nanti di akhir Ramadhan, Insya Allah Khatam 2 kali persis di akhir Surat An-Naas. Semoga target tilawahku pada Ramadhan kali ini terlampaui atas izin Allah, Amin.

”Akh, nanti kita tarawih di Masjid Takhobar saja ya?!” , pintaku pada Susanto.
”Taffadhol, akh”.
”Nanti kita berangkat bareng-bareng aja sama adik-adik sekalian.”
”Iya, akh”.

Sengaja kupilih Masjid Takhobar meski jaraknya lebih jauh adalah karena bacaan Imamnya sangat jelas dan fasih. Kudengar akan ada empat Imam terpilih yang bertugas memimpin solat di masjid tersebut. Masing-masing satu minggu lamanya, sehingga genap empat minggu selama Ramadhan. Ada yang berasal dari Ma’Had Umar Bin Khatab, Pusat Da’wah dan entah yang lainnya. Bacaan mereka yang tidak terlalu cepat sangat nyaman untuk diikuti dan dinikmati sebagai penambah kekhusukan sholat. Selain itu, biasanya akan ada ceramah agama ba’da solat Isya sebelum solat tarawih yang tentunya akan menambah tsaqofah Islamiyah kami. Dari segi kapasitas, masjid ini juga otomatis lebih banyak menampung jamaah. Bahkan tidak jarang sampai ke pelataran depan masjid khususnya saat Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila beruntung, fasilitas AC akan menyapa jika kita berada di barisan shaf ruang utama masjid. Hal ini tentunya akan semakin menambah nyaman ibadah kami.

”Akh, ana sama Edo jemput Uminya Edo dulu di depan Telkom” , pamit Susanto yang diikiuti pula oleh Edo.
”Oh ya taffadhol…” , balasku. Aku pun melanjutkan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an sembari menunggu waktu Isya.

Tak lama kemudian, Susanto dan Edo telah kembali dengan masing-masing menenteng sebuah tas besar.

”Assalamu’alaikum…” , sapa meeka berbarengan.
”Wa’alaikumsalam….”.
”Akh, ini ada Uminya Edo” , lanjut Susanto.
”Oh iya… ” , kuberanjak dari kursi berwarna hiaju di ruang tengah bermaksud menyambut tamu kami berikutnya.

Di belakang Susanto dan Edo nampak sosok wanita muda yang mengenakan selendang sutra membalut kepalanya. Warna kulitnya tak jauh beda dengan Edo, putih bersih. Demikian juga senyumnya, mirip sekali. Di tangannya tergantung tas kecil khas aksesoris wanita masa kini. Kuperkirakan usianya masih sangat muda. Tidak jauh berbeda dengan ibuku, paling hanya selisih beberapa tahun. Kuperhatikan di sebelah kirinya nampak manja seorang gadis kecil yang malu-malu. Warna kulitnya sedikit berbeda dengan Edo dan Uminya, lebih gelap sedikit. Ya, ia pastilah adiknya Edo.

”Mas titip anak saya Edo ya…” , sang Umi berpesan.
“Oh iya bu, Insya Allah…”
”Kalo bisa diajari ngaji, soalnya Edo masih baru….”
, belum selesai bicaranya, ia melirik ke arah Edo di sampingnya.
”Oh iya saya juga baru tahu kalo mas Edo mualaf tadi sebelum ke mushola” , kataku sok tahu.
”Baru berapa lama nak? Genap satu tahun ya..?” , tanya sang Umi pada Edo, anaknya.
”Satu tahun lebih mi…”
”Ya satu tahun lebih, soalnya waktu itu pas ulang tahunnya…” , lanjut Umi.
”Oooh…. ” , balas aku dan Susanto.

Mereka pun kami persilahkan melihat-lihat kondisi asrama. Dari kamar depan hingga belakang sampai dapur dan juga kamar mandi. Susanto nampak menjelaskan beberapa peraturan asrama yang wajib diikuti setiap anggota yang berada di dalamnya. Peraturan itu juga terpajang di sebelah mading yang terbuat dari gabus. Mereka membacanya.

”Oh ada kajiannya juga ya mas…?”
”Iya bu, Insya Allah seminggu sekali. Kami juga ada jadwal piket baik piket harian membersihkan lantai dan ruangan ataupun piket mingguan untuk bersih-bersih kamar mandi.”
, jawab Susanto.
”Dan mohon maaf, di sini anggota asrama dilarang merokok, mas Edo ngga merokok khan?” , tanyaku yang yakin Edo bukan perokok. Dari mana aku tahu? Entahlah, feeling saja.
”Oohh.. Alhamdulillah engga mas…” , jawab Edo.
”Alhamdulillah…”

Setelah sekian lama berbincang, Umi dan adik Edo undur diri. Nampak harapan yang besar dari sang Umi agar anaknya bisa mandiri dan belajar lebih banyak bersosial, terutama tentang keislaman. Karena, tidak sedikit mahasiswa asal Sidoarjo yang berangkat langsung dari rumahnya melihat jarak yang tidak terlalu jauh dengan Surabaya. Namun Edo dan ibunya lebih memilih bergabung di asrama. Semoga kami dapat membantunya dan menjaga amanah ini. Kamipun mengantarnya hingga mobil di depan gang rumah. Perpisahan antara ibu dan anaknya pun menjadi pemandangan yang entah mengapa membuatku haru. Aku teringat ibu di rumah.

Sesaat kemudian, terdengar beberapa kali letusan kembang api dan petasan bersahutan. Nampak anak-anak kecil menari riang di pinggir jalan saat kembang api dan petasan meletus.
”Siiuuutttt Dar..!! Siuuut… Dar..!”
”Hore…!”

Kami pun kembali masuk asrama.

”Ayo..ayo.. persiapan solat Isya…!” , kata Susanto mengajak teman-teman yang lain.
”Yo! Yo! Yo! Biasanya kalo ngga berangkat awal kebagian shaf belakang” , balasku menguatkan ajakan Susanto.

Maka kami pun bersiap berangkat solat Isya berjamaah. Satu per satu kami bergantian mengambil air wudlu. Antrian kecil mulai terbentuk, mirip tayangan berita di televisi yang menampilkan gambar orang-orang mengantri minyak tanah di beberapa daerah di belahan nusantara. Namun wajah-wajah antrian kami terlihat lebih ceria dibanding orang-orang yang mengantri minyak tanah tersebut.

Saat hendak berangkat, barulah teringat akan banyaknya sepeda motor terparkir di depan halaman asrama. Sebagai bentuk ikhtiar, kami memutuskan memasukkan semua kendaraan ke dalam asrama. Sebagian masuk lewat pintu depan, sebagian yang lain lewat pintu samping. Alhamdulillah semua muat tertampung. Sayang saat memasukkan kendaraan ini cukup menyita waktu kami. Kami prediksi bakal terlambat beberapa rakaat mengingat jarak masjid Takhobar cukup jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki.

Benar saja, kami tertinggal satu rakaat berada di bagian shaf selatan masjid. Telah tampak lebih banyak orang berjamaah dibanding sebelum Ramadhan. Barisan shaf laki-laki berada memenuhi bagian utama masjid dan sebelah selatan. Sedangkan barisan shaf wanita memenuhi bagian utara dan timur masjid. Setelah solat Isya, sambutan ta’mir masjid mengawali alokasi waktu ceramah malam itu. Diumumkan pula untuk tahun ini jumlah rakaat yang disepakati oleh rapat kepengurusan ta’mir adalah sebelas rakaat, setelah dua tahun sebelumnya berjumlah 23 rakaat. Yang jelas semuanya memiliki pendapat dan acuan masing-masing dan diharapkan tidak menjadikan perdebatan yang tidak ada artinya tentang perbedaan jumlah rakaat solat tarawih.

Sepulang solat Isya dan Tarawih berjamaah, kami putuskan mengadakan rapat asrama sekaligus perkenalan anggota asrama baru maupun lama. Kami duduk melingkar di kamar depan beralaskan tikar. Susanto mengawali dan membuka rapat tersebut selaku Mas’ul asrama. Dari situ kami saling mengenal satu sama lain. Beberapa anggota keluarga baru kami adalah:

Edoardo Raymond Kawengian (Edo),
Sang mualaf Asal Sidoarjo. Masuk jurusan Pendidikan Fisika’09. Bertubuh tinggi besar, persis tubuh atlet basket yang berposisi seperti Shaquile O’Neil. Sayang ia tidak menyukai basket. Padahal jika ia masuk tim basket pasti akan sangat menunjang tim dengan tubuh tinggi besarnya. Nama belakang kawenginan berasal dari sebuah nama marga di Manado.

Andik Herlambang (Andik),
Perawakkannya kurus, kulit sawo matang dengan gaya rambut ada motif petir di samping kiri kepalanya. Mirip potongan petinju Mike Tyson. Namun Mike Tyson tidak berbentuk petir, hanya garis melintang dan itupun di bagian depan, bukan samping. Sosok yang berasal dari Tuban itu memiliki perangai yang cukup ceria dan ia diterima di jurusan Teknik Mesin.

Andri Ferdiawan (Ferdi),
Tubuh kurus tinggi dengan kulit putih bersih dimiliki oleh Ferdi, sapaan akrabnya. Anaknya cukup kocak dengan celetukan-celetukannya yang sering membuat kami tertawa. Ia berasal dari Bojonegoro dan diterima di teknik Mesin juga seperti Andik. Tubuh kurus tingginya lebih mirip Kurniawan Dwi Yulianto sang pesepak bola mantan pemain timnas Indonesia yang di juluki si ”kurus” itu.

Nggoro Sujalmo (Nggoro),
Saat ia menyebutkan namanya barulah aku tahu bahwa ternyata Nggoro itu ya Sujalmo. Sujalmo itu ya Nggoro. Sempat bingung aku, karena dulu pertama kali ke asrama kami, ia dicatat dengan nama Sujalmo dan positif bergabung untuk menginap di asrama.

”Maklum mas… nama desa..”, ucapnya dengan senyum lepas diikuti gelak tawa kami.

Namun ia tidak merasa tersinggung ataupun minder sama sekali dengan namanya itu. Timbul rasa salut dan simpatiku padanya yang tetap bangga dengan nama pemberian orang tuanya itu. Ia berasal dari Bojonegoro dan diterima di jurusan Pendidikan Matematika.

Beberapa kesepakatan coba kami munculkan pada rapat anggoa asrama di malam pertama bulan Ramadhan itu. Antara lain adanya tugas membangunkan dan membeli makan sahur. Tugas tersebut dipikul dua orang bergiliran setiap malam. Dan malam ini yang bertugas adalah Susanto dan Edo. Kami sepakat untuk dibangunkan dini hari pukul 2.30 WIB. Sehingga ada waktu cukup bagi yang ingin Qiyyamul Lail sebelum santap sahur. Sedangkan untuk berbuka, tidak banyak masalah untuk dicapai kesepakatan. Ya, banyak tempat yang bisa dijadikan rujukan berbuka gratis. Wah, mendengar kata gratis hampir semua tersenyum dan tertawa. Meski begitu kucoba menyarankan, bahwa akan lebih baik lagi jika kita bisa memberi makan orang berbuka puasa.

Aku teringat ceramah Targhib Ramadhan oleh Ustad Abdussalam di masjid Baitul Makmur beberapa hari sebelum Ramadhan tiba. Bahwa memberi makan orang yang berbuka puasa di bulan Ramadhan, pahalanya sama dengan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi sedikitpun nilai pahalanya. Subhanallah…Jadi jika kita berpuasa dan sekaligus memberi makan orang yang berbuka puasa, Insya Allah kita mendapat dua pahala puasa. Sangat menggiurkan.

Bahkan dalam ceramah yang lain, Ustad Agung Cahyadi menceritakan bahwa kondisi di Mekkah saat Ramadhan menjelang Maghrib sangat ramai. Orang-orang dipersilahkan menggelar tikar dan sejenisnya di sekitar masjid. Berbagai makanan yang menggugah selera dan nikmat mereka hidangkan. Untuk siapa? Jawabannya untuk orang-orang yang melakukan Umroh dan siapapun yang hendak berbuka puasa. Mereka jusru menawarkan makanannya secara gratis layaknya penjual menawarkan kepada pembeli. Mereka sangat berharap makanannya di makan oleh orang-orang yang berbuka puasa karena mengetahui besarnya pahala di sisi Allah. Subhanallah…

bersambung…(#3: “Bunda aku kangen…” )


–rullyaguscandra@Darul Insan, 3 Ramadhan 1430 H–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s