Bunda aku kangen (Part#3)

Monday, August 31, 2009 at 11:36am

 

(sambungan Part#2 Ramadhan 1430 H true story)

Aku terbangun dengan seketika. Entah apa yang membuatku terbangun mendadak di malam itu. Kulihat jam di layar HP ku menunjukkan pukul 2.25 WIB, sedangkan alarm HP dua-duanya belum berdering karena ku setting pukul 2.30 WIB. Allah… inikah cara-Mu membangunkan aku? Alhamdulillah… Tiba-tiba muncul sosok tinggi besar memasuki kamarku. Ku coba memaksa melihatnya dengan mata masih sedikit perih. Oh, ternyata Edo.

”Lho sudah bangun mas?”, tanya Edo.
”Alhamdulillah…”,
balasku dengan melemaskan otot-otot tubuh.

Edo dan Susanto memang bertugas membangunkan anggota asrama yang lain malam ini. Meski sebenarnya tidak mutlak harus mereka. Siapa saja yang bangun duluan, diharapkan bisa membangunkan saudaranya yang lain.

Perlahan aku menuju tempat wudlu yang ada di samping asrama. Sebuah kran air berbahan kuningan kuputar perlahan tuas di atasnya. Segarnya air PDAM membasahi wajahku dan beberapa bagian tubuhku. Ku dengar sayup-sayup Edo dan Susanto masih berusaha membangunkan anggota asrama yang lain.

”Akh, ane beli makan sahur dulu ya…”, pamit Santo mengeluarkan sepeda motor Jupiter Z ditemani Edo.
”Lho uangnya? Sudah ada tah?”, tanyaku, melihat belum seluruhnya anggota asrama terbangun dan tersadar. Apalagi patungan untuk beli makan sahur.

”Sudah, pake uang ane dulu akh!”.
”Cukup tah? Klo kurang ane tambahin.”
” Insya Allah cukup…8 orang khan?!”
”Ehmm…..Ya, Insya Allah 8 orang! ”,
jawabku memperkirakan jumlah anggota asrama yang ada tanpa mengecek kembali. Bayangan Edo dan Susanto pun seketika hilang di kegelapan malam. Menembus dinginnya udara yang membelai kulit secara perlahan.

Busana muslim berwarna coklat kemerahan yang tergantung oleh hanger di sudut kamar kukenakan membalut tubuh ini. Sajadah hijau kombinasi kuning dengan motif bergambar masjid kubentangkan di lantai keramik putih. Bismillah….Ya Allah izinkan aku menghadap-Mu dengan segala kelemahan dan kekuranganku. Kurasakan hening menyelimuti asrama kami. Kucoba larut dalam munajat pada sang Kholik di sepertiga malam terakhir. Mencoba menikmati dan menikmati.

Saat baru selesai salam di rakaat kedua, entah mengapa aku teringat ibuku yang berada di sebuah kota kecil bernama Tegal. Kota yang terletak di jalur pantura Jawa Tengah yang cukup dikenal dengan warung Tegalnya (warteg). Jika kita bepergian ke Jogjakarta, Semarang, Bandung, Cirebon maka akan sangat mudah menjumpai warteg terlebih di daerah ibukota Jakarta. Anehnya selama aku di Surabaya ini, belum satupun aku menemui warung khas kotaku itu. Mungkin para pengusaha warteg lebih senang mengembangkan sayapnya ke daerah Jawa Tengah terus ke barat dari pada ke timur. Atau mungkin kalah bersaing dengan warung-warung khas daerah Jawa Timur sendiri. Sebut saja warung Kediri, Lamongan, Bojonegoro, Ponorogo, Madiun dan sebagainya.

Rasa rindu tiba-tiba menyeruak di hati dan alam pikiranku mencoba menggambarkan wajah ayu yang telah membesarkanku selama ini. Terbayang senyum manis wanita yang kini telah menggunakan jilbab meski belum sepenuhnya sadar. Ya, kadang ingat, kadang lupa.

Pernah suatu ketika ibu keluar ke tetangga dengan tergesa-gesa. Beberapa saat kemudian beliau nampak berbincang dengan ibu-ibu yang lain. Aku yang baru menyadari, menghampiri dan berbisik.

”Bu…jilbabnya koq ngga dipake…?”, kataku lirih di telinganya.
”Ehh..oh….iya…lupa! Adduhhh…!! Permisi sebentar ibu-ibu ya…”, ekspresi ibu nampak lucu saat itu. Kagok dan gugup serta langsung masuk rumah. Aku hanya cengar-cengir dan tersenyum kepada ibu-ibu yang lain sambil mengganggukkan kepala undur diri. Tak lama berselang, ibu kembali dengan masih membenahi jilbabnya, berjalan ke arah ibu-ibu yang lain.

Untuk mengajak ibu mengenakan jilbab butuh waktu lama dan diskusi panjang. Bahkan sempat ada rasa phobia jika ibu melihat sosok wanita berjilbab khususnya jilbab besar yang dikait-kaitkan dengan isu terorisme. Terlebih yang mengenakan cadar. Sungguh tidak adil rasanya jika seseorang yang ingin berhijab dan menjalankan ajaran agamanya dengan utuh, justru dihujani dengan predikat teroris, ekstrimis, garis keras dan sebagainya. Padahal Allah berfiman dalam surat Al-Ahzab:59

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sedangkan isu kebebasan berekspresi dan HAM digembor-gemborkan demikian lantangnya. Menembus norma-norma agama dan susila yang ada. Busana wanita yang ”buka-bukaan” dianggap tren dan biasa. Mengumbar aurat dan memancing syahwat yang melihatnya. Naudzubillahi mindzlik…

Awalnya ibuku ragu saat akan mengenakan jilbab. Maklum keluargaku bukanlah berasal dari keluarga muslim yang faham betul dengan keislaman sebelumnya. Bahkan saat ibuku masih muda, ia adalah seorang Beauty Consultan. Ultima, Revlon, Sara Lee dan perusahaan kosmetik kecantikan wanita lainnya itu sudah sangat akrab dengan ibuku. Saat berfoto dengan Marisa Haque yang saat itu juga belum berjilbab, kuakui ibuku tak kalah cantik. Demikian juga saat bersama Dewi Yull. Tampil modis dan anggun menurut penilaian dunia mode pun menjadi tuntutan. Berbagai merek parfum ternama dari Paris hingga Amerika tak lepas dari ingatannya.

”De…kalo merek Crocodile ini, akan tahan aromanya dari pagi sampe petang walau dipake sedikit”, kata ibu menjelaskan dan menyemprotkannya ke bagian leher dan urat nadi tanganku. Padahal saat itu aku masih SMP.
”Tapi kalo yang ini… jika dipake lalu bercampur keringat…aroma wanginya justru semakin menjadi. Semakin harum…”, jelasnya lagi menunjukkan botol parfum yang lain.
”Bercampur keringat koq malah tambah wangi bu…?”, tanyaku polos saat itu. ”Bukankah ibu ga suka kalo ade bau keringat…”.
”Eh… jangan salah.. yang ini justru jika bercampur keringat semakin mantap. Cocok dipakai para atlet dan orang dengan aktifitas gerak yang tinggi”.
”Haaah…?”,
otakku masih belum bisa menerima apa yang ibu katakan saat itu.

Tanpa pikir panjang kuambil HP ku dan kukirim SMS kepada ibu. Kutanyakan bagaimana kabar keluarga di rumah sekaligus ucapan selamat bersantap sahur. Biasanya aku langsung telpon ke ibu, namun pulsa Flexiku nampaknya sudah mepet dan belum sempat kuisi.

Terpikir juga mengirim SMS ke banyak orang sekaligus dengan pulsa IM3 ku, maklum rajanya SMS. Kukirim ke banyak orang terutama saudara, keluarga dan juga sahabat dekaktku. Sayang memori HP LG ku sempat hilang beberapa hari yang lalu. HP sempat error dan saat kubawa ke service center resmi LG, disarankan diinstal ulang dengan resiko semua nomor yang tersimpan di HP akan lenyap. Bodohnya aku tidak sempat mem-back up semua nomor kontak di dalamnya. Praktis hanya beberapa orang saja yang bisa aku kirimi SMS dengan berbekal nomor kontak dari HP satunya. Semoga SMS tersebut menjadi media membangunkan mereka yang masih terlelap. Setelah beberapa SMS terkirim , tiba-tiba ada SMS masuk.

Akh 8 cukup ya?
22/08/2009
02:40 AM
From : Susanto

Karena muncul keraguan, akhirnya kucoba mengecek kembali anggota asrama yang saat itu ada di rumah. Andi, Ferdi, Faris, Nggoro, Roni lalu jika ditambah aku, Susanto, Edo, maka jumlahnya delapan. Tapi…, sebentar…. siapa sosok di kamar tengah yang masih terbaring itu? Setelah kuhampiri dan kulihat ternyata ada Winarto, maba dari asrama lain yang kebetulan ikut menginap malam ini. Langsung kubalas SMS Susanto dengan jawaban:

9 Win disini jg.
22/08/2009
02:41 AM
To : Susanto

Selesai membalas SMS, kembali kuhampiri hamparan sajadah yang masih terbentang di kamar. Berdiri di malam hari dengan memikul dosa-dosa yang kusandang sekian lama. Bismillah… Ya Allah di sepertiga malam Engkau turun ke langit bumi terendah. Saksikanlah ya Allah hamba-Mu yang berlumur dosa ini, menghadap-Mu, mengharap ridho-Mu dan mendamba ampunan-Mu. Kabulkanlah Ya Allah… Lalu aku mencoba hanyut dalam rakaat demi rakaat…dan witir menutupnya.

Tilawah

Kuputuskan menambah bacaan Al-Qur’an sembari menunggu Susanto dan Edo yang belum kembali dari membeli makanan sahur. Baru memperoleh empat halaman, tiba-tiba HP Nokia dengan casing berwarna putih gadingku berdering. Kulihat nama di layar HP yang langsung membuatku tersenyum, tertulis di sana:

Mother I Luv U
calling…

“Assalamu’alaikum ibu…!”, sapaku penuh suka cita.
“Wa’alaikumsalam….gimana kabar anak ibu?”
”Alhamdulillah sehat…, ibu?”
”Alhamdulillah…”
”Udah sahur belum nih bu…?”
”Alhamdulillah ini masih menikmati, ade udah sahur?”
”Belum bu, ade masih tilawah. Tapi dah ada yang beli sih, jadi diakhirkan aja sahurnya…”,
jawabku.

Ibu memang tak pernah berubah memanggilku dengan panggilan Ade. Panggilan sejak aku dan kakakku masih kecil dan tinggal di Bekasi. Kakakku dan aku selalu dipanggil dengan panggilan Abang dan Ade, yang artinya kakak dan adik. Entahlah, sampai sekarang panggilan kecil itu selalu melekat pada diri kami. Akupun masih memanggil kakakku dengan panggilan Abang.

”Ibu sahur apa?”
”Ini…, tumis kacang panjang, telor dadar, tempe tahu, sambel, Udah! Ibu ama ayah mah gampang kalo ga ada anak-anak.”.

Ibu memang senang makan makanan sederhana dan mudah penyajiannya jika hanya berdua dengan ayah. Berbeda jika ketiga anaknya kumpul. Aku, Abang dan Astrid, adikku selalu dimanjakan dengan masakan yang lebih beragam dan tentunya bagi kami masakan ibu yang paling TOP. Kami, anak-anak ibu memang terpisah di tiga kota berbeda. Abang Rendy kini bekerja di salah satu hotel di Salatiga, setelah sebelumnya di Semarang. Astrid, adik perempuanku ikut suaminya di Jakarta setelah beberapa bulan yang lalu menikah. Dan aku kini di salah satu kota di belahan timur pulau Jawa bernama Surabaya.

”Ayah sedang sahur juga?”, tanyaku kemudian.
”Ayahmu ya biasa… mepet-mepet imsak baru mo makan. Jadi ibu makan sendiri neh sambil nonton tivi. Opera Van Java Sahur!”

Tiba-tiba terbayang saat-saat bersantap sahur di rumah dengan Abang dan adikku. Ulah usil abangku yang suka menggoda Astrid sering kali mengundang gelak tawa kami sekeluarga. Ibu yang suka nonton acara komedi pengantar sahur. Dan ayah yang kadang menyerobot acara tivi jika ada tayangan bola, baik liga Italia Seri A, Premier League ataupun Liga Champion. Bayangan itu membuatku semakin rindu rumah. Rindu suasana ramadhan dengan masakan ibu. Rindu kebersamaan kami semua dengan canda gurau yang menghiasi keluarga kami.

Tak terasa sudah cukup lama aku dan ibu berbincang menumpahkan kerinduan hanya melalui alat bernama Hand Phone. Perbincangan kami berakhir dengan menyisakan perasaan lega di hatiku. Suara ibu terdengar lebih tenang dan rileks. Hal ini berbeda dengan beberapa hari yang lalu sebelum ramadhan. Saat itu, Ibu sempat bercerita bahwa kondisi keuangan keluarga sedang kurang baik. Banyak pengeluaran tak terduga yang mau tak mau dilakukan.

Ingatanku melayang pada percakapan kami ketika itu.

”Assalamu’alaikum…”, salam ibu menyapaku.
”Wa’alaikumsalam ibu….”
”Ade sehat di Surabaya?”
”Alhamdulillah sehat.. ibu dan ayah gimana di rumah? Sehat juga khan?”.
”Iya, alhamdulillah….Ade di Surabaya baik-baik aja khan?”.
”Iya bu, kan udah ade bilang tadi… ade sehat…”
”Maksud ibu…itu…apa….ehmm…keuangan kamu di sana gimana…?”,
suara ibu mulai tidak seperti biasanya. Ada nada canggung atau semacamnya dengan gaya bicara terputus-putus dan ragu kali ini.

”Alhamdulillah bu, ada aja rezeki dari Allah…Ibu kenapa? Gak biasanya ibu gini..Ada apa bu?”, tanyaku mulai penasaran dan khawatir ada sesuatu yang ibu sembunyikan dariku.

”Ehmm…gini de, kamu tahu kan beberapa bulan lalu saat kamu pulang, tante Wiwin Hamil?”
”Iya tahu..terus…?”
”Nah sekarang sudah lahir anaknya…”
”Alhamdulillah…”
”Iii…iiyaa Alhamdulillah…Nah kebetulan…pas lahiran itu ada kelainan di tubuh tantemu itu…”
”Maksudnya…?”
”Yaahh… terpaksa…. harus dioperasi Cesar…”
”Allahu Akbar…! Tapi semua selamat khan bu?! Iya kan bu?!”,
tanyaku memburu tak sabar berharap jawaban baik yang kudengar selanjutnya.
”Alhamdulillah…semua…selamat…tapi…ya….itu… kan butuh biaya…”, nada suara ibu semakin terasa bergetar dan terdengar sangat berhati-hati. Ada kesedihan yang sepertinya berusaha ibu sembunyikan dariku. ”Operasinya kena enam juta… Ini sudah coba dihimpun…. tapi…”

”Masih kurang ya bu…?”, potongku mencoba menebak.
”Iyaaa….”

Bukan hanya naluri seorang ibu yang tajam terhadap anaknya. Kali ini naluriku sebagai seorang anak menangkap bahwa ibu menahan tangis di balik suaranya. Ya sesekali terdengar isakan yang ditahan di sela-sela kalimatnya meski tidak terlalu jelas. Ada sesuatu yang berat, yang sepertinya ia ingin aku tidak mengetahuinya. Saat itu aku merasakan genangan air mulai berkumpul di mataku. Tidak sempat terjatuh karena kutahan sekuat tenaga.

”Sebenernya ibu ga mau cerita ama ade…!”, kali ini isakannya terdengar sedikit jelas. ”Ade dah cukup susah hidup di sana tanpa siapa-siapa…”.

”Buu… ibu…Ibu jangan ngomong gitu…. Ibu kalo ada masalah cerita ke ade…Ade di sini baik-baik aja bu. Banyak saudara koq di sini… saudara seiman yang sangat sayang ama ade…”, tiba-tiba gaya bicaraku menyerupai ibuku. Terbata-bata dan tertahan sesuatu yang bergejolak di dada. Namun kucoba lebih tegar. Aku tidak ingin terlihat lemah dan semakin membuat ibu sedih.

”Buu…insya Allah uang tabungan ade masih ada….yaaah…ga banyak… sekitar satu jutaan…ade transfer ya…”, kataku mencoba menghibur.

”Janganlah….ade kan masih butuh….”
”Bu…tante Wiwin…lebih butuh saat ini…ade transfer ya…?!”
“Bener ade ada uang…? Trus nanti buat ade sendiri gimana?”
“Allah Maha Kaya bu…Insya Allah akan ada aja jalan Rezeki dari Allah…Ibu yang sabar ya…?”,
kata-kata itu tiba-tiba mengalir begitu saja dari bibirku. Padahal aku sadar, saat ini aku juga sangat membutuhkan uang tersebut untuk mengolah modal usaha yang sempat tersendat karena beberapa tagihan belum dilunasi mitra usahaku. Belum lagi berbagai pengeluaran tak terduga juga aku alami. Bismillah… Bismillah…

”Maaf ya de… ibu sebenernya ga mau nyusahin ade…. Cuma belakangan dagangan lagi sepi… Terus sebelumnya adik sepupumu Fathur yang masih balita juga sakit serius… jadi harus dibawa ke dokter dan ibu juga merasa harus membantunya. Biayanya ga sedikit…”
”Sabar ya bu… namanya usaha ada naik turunnya… ga mungkin kan mau untung terus… Kali ini Allah lagi ngasih ujian buat kita….Ade transfer sekarang ya? Satu juta gapapa khan…?”
Kali ini ibu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Untuk beberapa detik aku tak mendengar suara apapun. Hening.

”Bu…ibu…? Halo…?”


Tiba-tiba Tangis ibu pecah dan mulai terdengar jelas. Nampak sekali ia ingin menahannya namun tak kuasa hingga membuat suara sesengukkannya semakin menjadi. Isakannya yang terputus-putus terdengar sangat menyayat hatiku. Dadaku mulai bergoncang. Semakin lama semakin terasa menyesakkan. Air mataku tumpah tak tertahan kali ini… Sesuatu yang hangat terasa mengalir di pipi. Isakan ibu kini bersahutan dengan isakanku yang sangat susah kuredam. Kami larut dalam airmata. Tak ada percakapan, tak ada kata-kata. Hanya bahasa desahan yang mengoyak jiwa. Ya Allah…kuatkan kami ya Allah…Kami hanyalah hamba-Mu yang lemah… Mudahkanlah bagi kami melalui segala ujian-Mu ya Allah….Namun saat ini…biarkanlah ya Allah…biarkan kami menikmati tangis ini berdua…. Biarkan kami melepaskan apa yang membuncah di dada… Bukan kami tidak bisa menerima keputusan-Mu ya Allah… bukan pula kami kecewa pada-Mu ya Allah… Hamba hanya ingin bersama bunda… dalam rasa yang membelenggu jiwanya… Hamba hanya ingin bersama bunda… dan berharap kami sedikit lega setelahnya…

Tak terasa, tiba-tiba airmata ini menetes mengingat kejadian itu. Kuseka dan mencoba untuk tersenyum. Bayang wajah ibu menjelma di langit-langit kamarku. Kupanjatkan doa semoga ia senantiasa dalam lindungan dan kasih sayang-Nya. Diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menjalani hidupnya. Serta dilimpahkan rizki yang halal dan barokah. Kemudian bayang wajah ibu berganti dengan bayang wajah ayah, abang, Astrid dan beberapa anggota keluarga yang lain. Kabulkanlah doaku ya Allah… Kabulkan doaku ya Allah… Amin….

*****
Kisah sebelumnya:
part#1: Mualaf itu benama Edo
Part#2: Nggoro ya Jalmo…

–rullyaguscandra–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s