L.E.L.A.K.I._.M.A.L.A.M

Thursday, February 11, 2010 at 8:11p

Lelaki itu tersungkur dalam syukur
Melantunkan syair pujian pada Sang Maha Pengatur
Meski perlahan setahap demi setahap ditegur
Namun dari situlah ia merasa terhibur

Matanya nampak tak tahan membendung
Bagai lahar panas yang siap meledak di gunung
Memaksa lisannya berdo’a dalam senandung
Mempercayakan pada Allah saja ia berkabung

Lirih…
Lirih ia berbisik pada Sang Guru
Sang Guru Yang Maha Tahu segala sesuatu
Dipenuhi rasa rindu membuncah di kalbu
Meskipun membawa jutaan rasa malu

“Cantik…”, katanya.
“Cantik cara-Mu menegur diri…
Lewat ayat-ayat-Mu Kau tampar hati…
Dengan buku-buku itu Kau cambuk ruhani…
Dan melalui penyeru-penyeru-Mu Kau sadarkan jiwa ini…”

“Indah…”, katanya lagi.
“Indah ternyata segala rencana-Mu…
Hanya aku saja yang slama ini tak tahu…
Berbagai peristiwa sepanjang usiaku…
Menghantarkanku pada keagungan dan kuasa-Mu…”

“Ambil…”, ia kembali berucap.
“Ambil nyawaku saat ini…
Saat Cinta ini tengah bersemi…
Ketika jiwa ini sujud membumi…
Dan kerinduan melihat wajah-Mu menjadi segala mimpi…”

Nafasnya terisak…
Dadanya terguncang…
Airmatanya meleleh…
Senyumnya mengembang…

Sekian malam Sajadah tua itu menjadi alas tubuhnya…
Sekian malam cahaya rembulan menjadi saksi bisu di sepertiganya…
Sekian malam ia menemui kekasihnya…
Sekian malam tumpah air matanya…

Malam itu tak seperti biasanya
Tubuhnya terbujur kaku di sana
Ternyata malaikat Izroil telah menjalankan tugasnya
Menjemput sang lelaki malam menemui kekasihnya
Selamanya….

(Rully Agus Candra @ Surabaya Feb 2010)

Iklan