Wanita Keadilan itu tlah Syahid

Pagi ini hujan masih membasahi Surabaya. Ya, sedari Maghrib kemarin, tetesan air seolah betah bermain di kota pahlawan. Saat diri ini berbenah bersiap berangkat kerja, tiba-tiba ada pesan singkat BBM :

“Jam 9 ada rapat. Ana ingin sekalian ke kantor, mampir ta’ziyah ke ikhwah yg malam tadi istrinya meninggal. Antum ikut sekalian.”

“Toyyib ustad”, balasku.

“Innalillahi wa inna ilaihirojiuun…”, lirih mulutku berucap.

Praktis, kuurungkan berangkat pakai sepeda motor untuk berangkat bersama ustad. Masih banyak pertanyaan di hati, siapa gerangan akhwat yang meninggal, siapa pula ikhwah yang menjadi suaminya tersebut. Ah, nanti saja kutanyakan langsung saat bertemu ustad. Bergegas kupercepat langkah menuju rumah yang hanya beberapa blok dari tempat tinggalku. Pukul 07.35 WIB aku sudah berada di depan rumah ustad bersama Pak Nur, supir pribadi bliau.

“Ana sudah di depan rumah ustad”, tulis pesan singkatku kemudian.

Tak lama berselang, ustad keluar, berpamitan dengan anak-anak dan istri yang melambai-lambaikan tangan dari balik pagar. Sebuah pemandangan yang menyejukan dari keluarga yang harmonis.

Di dalam mobil yang melaju perlahan di komplek perumahan, ustad bertanya,

“Akh, coba antum cek, daerah mana dan lewat arah mana ke tempat ta’ziyah?”

“Alamat lengkapnya ustad?”

“Sebentar, ana kirim lewat BBM”

Beberapa detik kemudian terdengar suara pesan masuk di HP dan langsung kubaca. Beberapa info di dalamnya berisikan nama dan alamat almarhumah yang meninggal (mohon maaf tidak saya tuliskan data informasi nama dan alamat lengkapnya di sini).

“Antum cek itu daerah mana? Ada yang bilang daerah Kenjeran, bener ga?”, tanya ustad kemudian.

“Hmm.. sebentar…”, balasku sembari membuka aplikasi peta di HP.

Mencari tahu daerah mana tepatnya, minimal kecamatan mana, agar bisa segera memutuskan rute yang akan ditempuh. Kebetulan alamat yang tertulis hanya nama jalan, gang dan nomor rumah. Sedangkan nama jalannya masih asing dan belum diketahui oleh kami.

“Iya ustad, insya Allah benar di daerah Kenjeran. Berarti dari MERR II C terus saja, mentok jalan Kenjeran. Klo dari peta bisa lewat Kedung Cowek, tapi sepertinya ada jalan pintas. Nanti saja sampai kenjeran ana tanya penduduk sekitar”

“Antum cari tahu juga siapa nama suaminya?”

“Baik ustad”

Sepertinya ustad mendapatkan info tersebut dari para ummahat melalui istrinya. Karena info yang di dapat hanya nama almarhummah dan kurang disertai info nama suaminya. Sejurus kemudian kukirim pesan singkat ke salah satu Grup sekaligus. Mengabarkan berita duka serta berharap memperoleh info nama suami almarhumah. Beberapa respon balasan mulai masuk, diantaranya banyak yang baru mendengar kabar dan turut berduka, dan salah satunya memberi info nama lengkap suaminya.

Dari satu nama yang muncul, kami berusaha membayangkan wajah saudara kami yang tengah diuji duka. Karena ada beberapa nama yang mirip, kami pun menebak-nebak satu persatu memastikan tidak salah mengingat wajah dan namanya.

Perjalanan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Berbekal pepatah “malu bertanya sesat di jalan”, kami telusuri setiap informasi dari orang-orang yang kami tanyai. Di luar dugaan, kami harus melewati banyak gang sempit berliku dan panjang. Hingga  sempat pula melewati gang yang ternyata buntu dan hanya muat untuk satu mobil. Praktis kami harus mundur puluhan meter jauhnya.

Beruntung, kami mendapatkan seorang ibu yang baik hati. Bliau berkenan memandu dan mengantarkan kami dengan sepeda motornya. Dengan  masih menggendong putra kecilnya, sang ibu dengan cekatan dan sabar menunjukkan arah dan memandu di depan mobil. Kebetulan rumah sang ibu ternyata satu komplek dengan alamat yang hendak kami tuju.

“Pak, nyari rumah yang keluarganya baru meninggal ya?”, tanya ibu tersebut.

“Iya bu, betul”, kataku membenarkan.

“Nah dari sini sudah tidak jauh, lurus lalu belok kanan, nanti ada bendera tanda ada keluarga yang meninggal di depan gang”, paparnya.

“Oh nggeh, matur suwun sanget bu. Nyuwun ngapunten”, balasku kemudian.

“Nggeh sami-sami”

Kami pun tiba di depan sebuah gang yang sempit. Mobil tidak dapat masuk ke dalamnya, sehingga Pak Nur harus memarkirkan mobil di luar gang yang juga masih tergolong sempit.

Berjalan melewati gang sempit tersebut, beberapa sepeda motor nampak parkir memanjang. Sepertinya beberapa orang sudah ta’ziyah terlebih dahulu. Dari jauh terlihat sekumpulan ibu-ibu memenuhi gang. Langkah kami melambat.

“Assalamu’alaikum, afwan, suami almarhumah dan tamu bapak-bapak yang lain di mana ya?”, ustad mendahului bertanya.

“Wa’alaikumsalam warohmatullah.. “, jawab para ummahat berbarengan.

“Oh bapak- bapak terus saja, itu suaminya yang masih telpon”, kata salah seorang diantaranya sambil menunjuk seseorang yang membelakangi kami dari kejauhan tengah sibuk menelepon.

Rasa haru dan duka memenuhi hati kami. Terlebih melihat wajah saudara kami akh Fulan (mohon maaf tidak saya tulis nama aslinya) yang baru saja ditinggalkan istri tercintanya. Dari matanya nampak bekas  kesedihan yang dalam, namun tetap terlihat tegar. Mulutnya berusaha tersenyum dengan senyuman yang sangat terlihat dipaksakan. Jabat tangan dan peluk haru kami seolah membuat tersalurkannya segala rasa dukanya kepada kami. Hatiku merasa bergetar hebat, seakan merasakan segala kesedihannya. Ingin rasanya memeluknya lebih lama lagi dan berbagi rasa sekian lama. Entah mengapa airmataku juga seolah ingin berontak keluar, namun kutahan. Agar tak membuatnya semakin bersedih dan kembali berlinang air mata.

“Innalillahi wa’inna ilaihi rojiuun… sabar ya akh…”, ucapku dalam peluknya.

“Jazakallah akhi…”

Tak berselang lama, sekumpulan ikhwah yang lain muncul keluar mushola yang tidak jauh dari situ. Giliran kami yang baru datang untuk mensholati jenazah yang masih berada di dalam mushola. Bersama beberapa bapak-bapak yang lain dan juga sebagian ibu-ibu kami pun melaksanakan sholat jenazah di pimpin ustad sebagai Imam.

Selesai sholat, kami berbincang dengan saudara kami akhi Fulan yang berduka tersebut. Bliaupun menceritakan bagaimana kejadiannya (semoga menjadi Ibroh bagi kita semua). Kurang lebih dapat saya rangkum hasil perbincangan kami sebagai berikut:

“Kejadiannya jam dua pagi ustad. Jadi istri ana saat itu memberi ASI anak kami yang berusia dua bulan sembari tiduran. Ana kemudian tertidur saat itu. Tiba-tiba, anak kami menangis kencang. Jadi dia tertindih tubuh istri, sehingga mungkin menangis kencang. Ketika ana lihat, ternyata istri sudah dalam keadaan Naza’ (kondisi sakaratul maut). Mulutnya mengerang..”, papar akh fulan berhenti sejenak dan nampak menahan tangis yang hampir pecah. Kami terdiam mendengarkan sembari menahan sedih pula.

“Saat itu ana langsung menuntun dan membantunya dengan kalimat thoyyibah dan ayat ayat suci Al Qur’an”, paparnya dengan mimik wajah yang jelas sekali menahan tangis namun masih bisa dikendalikannya.

“Sempat antum lalukan upaya pertolongan?”, tanya ustad.

“Iya ustad, ana minta tolong dokter dekat rumah, namun kata dokter sudah tidak dapat diselamatkan”.

Mata akhi Fulan berkaca-kaca. Kami tak kuasa pula turut menahan kesedihan yang teramat dalam dirasakannya. Dari penuturan akhi Fulan ternyata sang istri punya riwayat jantung. Allahu Akbar…

“Insya Allah syahidah”, tutur ustad kemudian

”Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya, seperti pejuang di garis depan fi sabilillah. Dan jika ia meninggal di antara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya pahala mati syahid. ” (HR. Tabrani)

Ya Allah betapa Engkau maha Kuasa atas segala sesuatu. Kau atur sedemikian rupa jatah usia kami. Seorang Mujahidah telah Kau panggil menghadapMu. Ditengah rasa kasih dan sayang seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Namun Engkau pula-lah yang paling mengerti arti Kasih dan Sayang sebenarnya. Kau yang Maha Pengasih dan Penyayang telah menunjukkan bahwa Kau lebih mencintai dan menyayangi Almarhumah sehingga Kau Panggil ia menemui Cinta KasihMu. Engkau pula yang menggenggam segala hikmah atas segala kehendakMu. Mudahkan kami mengambil ibroh. Sabarkan dan ikhlaskan keluarga yang tengah kau uji ini…

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun….

Ditengah perjalanan setelah ta’ziyah, alunan nasyid Shoutul Harakah mengalun mengiringi kami yang masih terdiam membisu. Nasyid yang kudengarkan sangat terasa menyentuh. Seolah pas sekali dengan apa yang baru kami lihat, dengar dan rasakan. Sebuah persembahan untuk para wanita  mujahidah dan syahidah. Penggalan lirik tersebut adalah :

Taman surga telah terbentang
Menyambut kaum pejuang
Wanita keadilan
Pintu itu tlah siap terbuka
untuk mu hai mujahidah
Wanita keadilan

untuk lirik lengkapnya sebagai berikut:

Wanita Keadilan (Shoutul Harokah)

Perjuangan wanita keadilan
Menjadi tiang Negara dan agama
Madrasah bagi generasi masa depan
Tangan mengayun siap songsong fajar Islam

Melahirkan wanita Indonesia
cerdas dan bertaqwa
Berakhlak mulia dan berbudaya
Cermin keagungan negara

Taman surga telah terbentang
Menyambut kaum pejuang
Wanita keadilan
Pintu itu tlah siap terbuka
untuk mu hai mujahidah
Wanita keadilan

Iklan

4 comments on “Wanita Keadilan itu tlah Syahid

  1. masih terkenang sapaan hangat dan senyum ramah sang syahidah :’)
    moga Allah khusnul khatimahkan kita semua .. aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s