#SaveEgypt

Lapar hausnya siang malam| Dalam balutan kelam mencekam| Harta nyawa rela diserahkan| Melawan…melawan kedzaliman & ketidak adilan|

Damai tetap ditampakkan| Taat dijaga sedemikian| dan iman…iman tak goyah haluan|

Wahai Penggenggam Ramadhan…| Wahai Sang Penentu kesyahidan| JanjiMu tlah datang| Berpulang para insan pilihan| Tertunai surga oleh darah dan nyawa| Terbayar pula ujian terberat bagi para hamba|

Berkahilah…berkahilah bumi Mesir-Mu yang kini terbakar| Rahmatilah… Rahmatilah… Setiap jengkal tanahnya dengan seluas-luasnya RahmatMu…| Ampunilah… Ampunilah kami yang lemah tak banyak kuasa| Ampunilah kami yang geram dalam airmata doa| Ampunilah kami yang masih bergelimang dosa|

#SaveEgypt #StopMassacreInEgypt #RamadhanMubarokInEgypt #RAC

Posted from WordPress for BlackBerry.

Maafkan anakmu Bunda

Lupakah diri akan sosok yang sangat berarti?
Sosok yang sepatutnya kita cintai, dan selamanya kita cintai.
Yang cintanya tlah mengalir di seluruh nadi.
Yang Kasihnya tetap berhembus abadi.

Lupakah diri akan sosok yang sangat berjasa?
Sosok yang kedudukannya setelah Allah dan RasulNya.
Yang karena sayangnya pula kita ada.
Yang atas ketulusannya jua kita nyata. Baca lebih lanjut

D.A.M.A.I_B.U.M.I

Purnama malam berseri sempurna
Kenangkan kisah dalam satu masa
Kala paku alam kokoh menghujam
Sejuk semilir angin, membelai batin
Di antara melodi dzikir, binatang malam yang menyihir

Sang embun pagi pun tunduk dini
hari
Menyapa dedaunan hijau yang tak pernah risau

Membasahi tanah gersang hilangkan berang
Bersiap menyapa mentari nan berseri

Anak ingusan merindukan masa itu

Sang Pemburu

Tampilannya biasa saja. Tak nampak istimewa sebagaimana orang-orang yg sepertinya. Ia tlah berubah, dalam beberapa sikapnya. Tak seperti dulu. Ia Semakin pendiam, waspada mungkin tepatnya, kala ia tlah menetapkan jalan hidupnya sebagai seorang pemburu. Terlebih saat ayahnya mewarisi senapan sniper untuk berburu. Ia terima takdirnya meneruskan warisan leluhurnya yg lebih dahulu menjadi pemburu.

Tlah banyak cabikan, gigitan dan terkaman binatang buas meninggalkan bekas luka di tubuhnya. Menyadarkan ia untuk lebih berhati-hati melangkah menembus belantara rimba raya. Ia tak ingin lagi gegabah melangkah diantara semak belukar. Menembus ilalang dan padang gersang. Atau lembabnya hutan tropis yg eksotis. Baca lebih lanjut

Reno dan Surat Taha

Pagi itu Reno dan Pak Cholis meluncur dengan Kijang Innova menuju rumah Ustad. Jam 7.30 mereka berdua telah standby di depan rumah sederhana tersebut. Hampir 30 menit berlalu sembari menunggu, Reno hanya mendengarkan pak Cholis yg mengajaknya berbincang. Tentang pengalamannya, tentang keluarganya dan sebagainya.

Reno sebenarnya sedang tidak terlalu mood untuk mendengarkannya. Hatinya yg tengah gundah gulana disembunyikan agar tak nampak dari ekspresi muka dan gerak. Ia tetap melemparkan senyum meski hatinya berkebalikan. Ia hanya tidak ingin mengecewakan sosok yang duduk dibelakang kemudi tersebut; yang bercerita dengan semangatnya. Sesekali Reno tersenyum lebar, mengangguk, mengucapkan kata “ooo…gitu ya..” Meski sebenarnya ia tidak fokus mendengarkan. Sesekali pula ia membalas pesan singkat di handphone-nya karena juga masih berkoordinasi dengan beberapa orang. Ia harus membagi perhatian ke layar hp dan menatap wajah pak Cholis. Baca lebih lanjut

Second Ikhlas

Ternyata benar-benar tak mudah belajar apa itu Ikhlas. Gampang mungkin kita ucapkan di lisan dan tulisan. Atau gerak tubuh kita seolah bisa mengatasinya. Namun sungguh ia terletak di hati. Dalam, dan hanya ia dan Rabb-nya yang tahu.

Mungkin saat ujian belum sampai pada klimaksnya kita masih bisa berdalih ikhlas terhadap suatu keputusan Allah. Mungkin saat saudara kita diuji dengan ujian yang berat, kita mudah menghiburnya dengan berkata, “Ikhlas ya saudaraku…, sabar…”. Namun ketika ujian tersebut menghampiri diri kita, barulah kita rasakan bahwa ikhlas itu ibadah yang luar biasa.

Luar biasa jika bisa dilakukan seseorang ketika cobaan mendera hebat, luar biasa balasannya di sisi Allah jika mampu melaluinya, dan pasti hal tersebut juga bisa menjadi luar biasa berat saat kita belum bisa mengatasinya. Baca lebih lanjut

This is it.. Roti Bakar Bandung ala chef Rully King.. :P

“Waduh mas, disemutin…!”, kata pak Nur mengagetkanku.
“Apanya pak?”
“Rotinya…!!!”

Fiuh…!!! baru juga rebahan beberapa detik sepulang kerja, terpaksa bangkit lagi melihat pak Nur yang panik. Waaah.. Emang canggih semut2 di rumah ini. Ga boleh ada makanan diem sebentar. Pasukan beberapa kompi pasti langsung menyergap ganas. Jangankan makanan yang terbuka, yang tertutup aja sampe dilubangi bungkus plastiknya. Permen, sosis, mie instan, biskuit yang masih rapat belum dibuka sudah jadi korbannya. Subhanallah… Luar biasa indera makhluk-makhlukMu ya Rabb… Luar biasa Kau ciptakan mereka…

Kali ini roti tawar bergerigi yg jadi korban. Yup bahan makanan olahan khas bandung ini terlihat di beberapa bagian sudah ada yg tak luput dari semut imut yg bersungut. Manggut-manggut sambil ngemut, sampe mulutnya crumut (belepotan.red). Emang kliatan..??!!! Baca lebih lanjut

Wanita Keadilan itu tlah Syahid

Pagi ini hujan masih membasahi Surabaya. Ya, sedari Maghrib kemarin, tetesan air seolah betah bermain di kota pahlawan. Saat diri ini berbenah bersiap berangkat kerja, tiba-tiba ada pesan singkat BBM :

“Jam 9 ada rapat. Ana ingin sekalian ke kantor, mampir ta’ziyah ke ikhwah yg malam tadi istrinya meninggal. Antum ikut sekalian.”

“Toyyib ustad”, balasku.

“Innalillahi wa inna ilaihirojiuun…”, lirih mulutku berucap. Baca lebih lanjut

Ujian Kenikmatan

Saat sang jiwa mengharap nikmat, tak jarang ia bersemangat dan besungguh-sungguh dalam ibadah. Harapan-harapannya ia lantunkan dalam doa-doa menyempurnakan sholatnya. Keinginan-keinginan kecil dan besar, ia pinta tanpa kenal lelah. Kemudahan hidup, fasilitas hidup, kesehatan, keberlimpahan harta beserta keberkahannya, juga ribuan permintaan yg lain. Sang jiwa terus mendekat, terus menjalin kontak sesering mungkin dengan Sang Maha Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Ya, sang jiwa mulai menikmatinya. Menikmati memohon dan terus memohon.

Saat kemudian Allah mengujinya dengan menunda terkabulnya harapan, sang jiwa masih bertahan dengan ibadah-ibadahnya. Ia sadar dirinya lemah tak berdaya, maka ia mohon untuk dikuatkan. Sang jiwa juga sadar bahwa ia tak kuasa atas apapun, maka ia bersandar pada Sang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla.
Sang jiwa masih berusaha bertahan dan terus bertahan. Baca lebih lanjut