Ikrar dua insan

10678844_10152835682154020_4439400671717270532_n

Dunia bersemi kembali
Ketika sendiri menemui satu hati
Tanggalkan sepi melepas sunyi
Warnai hari atas ridho Illahi

Rusuk ini lama terpuruk
Jiwa ini lama tertunduk
Bagai pengelana dalam satu ruang
Menyekap diri untuk kendali kekang

Baca lebih lanjut

Alhamdulillah…setengah dien akhirnya terpenuhi…

January 15th, 2007 by rullyaguscandra

Di sebuah
ruangan berukuran kurang lebih 80 m persegi, beberapa ikhwan dan akhwat nampak
hening, khusuk mendengarkan suara yang keluar dari wireless berwarna putih.
Hampir dipastikan juga, semua mata tertuju pada sosok yang berada di hadapan mereka.
Ya, satu-satunya orang yang berdiri di ruangan tersebut sementara yang lainnya
duduk memperhatikan setiap kata yang mengalir dari bibirnya. Diri ini yang
kebetulan duduk di barisan paling depan tiba-tiba dikejutkan oleh dering HP dan
getarannya. Dengan sedikit kikuk kuberanikan meminta ijin untuk keluar sejenak
dari ruangan.Susah rasanya menolak panggilan yang masuk tersebut setelah
menyadari layar HP bertuliskan “Mother Calling”.

“Assalamu’alaikum…”,
salamku pada ibu.


“Wa’alaikumsalam, gimana kabarnya Ade…?”
,tanya
suara di seberang

sana

.

“Alhamdulillah
sehat bu, ibu sendiri gimana?”

“Alhamdulillah
sehat juga”

“Ibu
tadi pagi baru transfer…, maaf ya baru bisa sekarang…dagangan lagi sepi…”

“Alhamdulillah…itu
sudah lebih dari cukup. Lagian kerja sambilan di sini juga lumayan membantu…”

“Iya…Ade
yang sabar ya! Do’ain juga semoga dagangan ibu juga lancar kembali…”

“Amin…amin…”

“Oya,
Ade ngga pulang liburan ini? Udah selesai ujian khan?”

“Ujiannya
sih udah, tapi masih banyak kegiatan di kampus bu. Ini juga lagi ada pelatihan,
Ade ijin keluar. Jadi…kayaknya belum bisa pulang…”

“Ade
betah ya di Surabaya? Sampe-sampe jarang pulang gitu? Atau jangan-jangan…ada
ceweknya di

sana

?”, tanya ibu beruntun. Dengan
tersenyum kucoba menjawab,

Bu…bu…
Ade ngga yang gitu-gituan di sini. Boro-boro mikirin cewek, mikirin mata kuliah
aja pusing. Lagian daripada pacaran mendingan langsung nikah…. Ya…Insya
Allah semester tujuh lah bu…Do’ain ya bu…”
, jawabku dengan
penasaran ingin mendengar respon ibu.

“Heh…heh…semester
tujuh? mo nikah…? Terus mo dikasih makan apa istrimu nanti…?”
,balas
ibu dengan nada terkejut.

“Ya
dikasih makan nasi lah bu….masa di kasih Lem?”
, jawabku enteng
menggoda ibu.

“Maksud
ibu…kamu dah mikirin bener-bener? Kamu sendiri masih kuliah, pendapatan belum
mapan. Nikah itu menafkahi lahir batin lho…Ngga gampang!”

“Bu,
di sini juga banyak ustad-ustad yang dulunya nikah saat kuliah…buktinya
mereka bisa. Bahkan saat kuliah ngga bekerja sama sekali…bener lho bu!”
,
balasku membela diri.

“Iya…tapi
ibu tetep belum setuju klo anak ibu menikah saat kuliah. Ibu pengen kamu lulus
dulu, baru boleh menikah…”
, pinta ibu.

Itulah
sepenggal dialog beberapa bulan yang lalu bersama ibu. Ya, saat ibu belum bisa
menerima kondisi pernikahan semasa kuliah. Saat ibu masih khawatir jika anaknya
justru akan membuat sengsara pasangan hidupnya jika menikah di usia muda.
Meskipun dengan berbagai argumen dan pendekatan intensif serta memakan waktu
yang cukup lama, bahkan konsultasi dengan keluarga yang lain, akhirnya ibu pun
tidak keberatan tentang kondisi tersebut. Tetapi tetap saja terlontar
kata-kata,

“Ya…sebenarnya
ibu ngga keberatan…tapi kalo ibu boleh usul…ibu inginnya kamu lulus
dulu…itu keinginan ibu…tapi…ya terserah kamu…kalo memang kamu pengen
nikah…kamu harus pikirin masak-masak lho ya…!”

“Alhamdulillah…terima
kasih bu…Ade sebenernya pengen tahu respon ibu akan pernikahan semasa kuliah.
Ade juga ngga ingin ngecewain ibu. Lagian terus terang secara ruhiah Ade belom
siap, Ade masih harus belajar banyak tentang ilmu agama. Ade ngga ingin jadi
kepala keluarga dengan minim ilmu agama dan tidak dapat memberikan bekal agama
yang baik untuk keluarga kelak. Finansial juga belom mapan, meskipun kita harus
yakin bahwa Allah akan memampukan hamba-hamba-Nya dengan Rizki-Nya. Ade yakin
itu, tetapi dengan berbagai persiapan tentunya akan jauh lebih baik.”

Malam itu, teman-teman tim Nasyid Lentera melakukan
latihan rutin mingguan. Tidak seperti biasanya, pertemuan kali ini kami tidak
banyak berlatih tetapi justru membahas agenda ke depan serta persoalan seputar
tim.

“Gimana
akh, undangan walimahan di Mojokerto jadi? Yang adiknya akh Eko itu
lho…”
, tanya Mas Kiki padaku.

“Nah
itu dia…tanggal 14 Januari tuh ada tawaran juga dari Mba Alfin. Sama!
Walimahan juga! Temennya Mba Alfin yang nikah! Kalo yang Mojokerto

kan

waktunya pagi…nah kalo yang Mba Alfin
kemungkinan malam. Lagian katanya akh Ali ngga bisa tanggal 14 Januari,
otomatis kita harus cari Bassis penggantinya. Antum bener-bener ngga bisa
akh?”,tanyaku pada Ali sang Bassis di tim.

“Iya,
afwan ane ngga bisa tanggal segitu. Oya ada tawaran ngisi walimahan juga
tanggal 14, beda lagi! Mungkin kita bisa minta tolong Akh Erwin jadi Bassis
pengganti ane, dia

kan

Bassisnya Azzam Voice”

“Bentar-bentar…antum
bilang antum ngga bisa, kalo boleh tahu alasan antum apa neh? Biar jelas. Terus
tawaran yang baru lagi tuh dari mana?”, tanya akh Gendoet.

“Iya
akh…antum ngga bisanya kenapa? Antum vital lho di tim?”, tambah sunaji
sang spesialis suara dua.

“Ehmm…gini…sebenernya
ane ngga bisa karena ada acara keluarga yang ngga bisa ane tinggalin. Tapi ane
harap kalian bisa tampil tanpa ane di walimahan yang ane tawarkan
terakhir.”

“Oke
antum ngga bisa tampil. Tapi yang antum tawarkan belom jelas. Pernikahannya
siapa? dimana? jam berapa?”,tanya akh Kiki.

“Iya…ane
ngga bisa karena acara keluarga yang sangat penting. Dan walimahan yang ane
tawarkan tuh…Insya Allah…adalah…walimahan…ane…”, kata Ali dengan
tersipu malu.

“Subhanallah….”,
spontan kami menimpali hampir berbarengan. Dan kami pun bergantian memeluk
saudara kami Ali yang ternyata segera melangsungkan pernikahannya.

“Alhamdulillah…”

“Barokallah
yaa akhi…”

“Selamat
ya…antum koq ngga bilang dari tadi…”

Dan
kamipun larut dalam pelukan bahagia dengan masih tersisa perasan terkejut. Ali
yang masih semester tujuh ternyata melangsungkan penyempurnaan setengah
agamanya dengan tiba-tiba. Sang mempelai wanita yang beruntung tersebut
ternyata adalah Ukhti Lisa yang selisih usia mereka tiga tahun. Ya, akh Ali
tiga tahun lebih muda dibanding Ukhti Lisa. Subhanallah… Dan agenda tim
Lentera pun di fokuskan pada acara walimahan saudara kami. Dengan terpaksa
tawaran yang lain kami batalkan karena alasan waktu dan juga prioritas.


Hari bahagia itupun tiba.Para
undangan terhijab rapi antara pria dan wanita sehingga tidak ada percampuran
antara keduanya. Dekorasi bunga-bunga nan indah serta tata ruang yang cantik
semakin memukau tamu yang hadir. “Afada” yang dikenal sebagai Wedding
Organizer Islami dipercaya mengatur segalanya. Tak lama berselang sosok yang
kami nantikan akhirnya muncul juga. Ia berbusanakan baju koko bergaya jas
dengan warna hijau muda yang terang. Wajahnya nampak ceria, dengan kalungan
bunga melati yang semakin menambah elok penampilannya. Ia berjalan perlahan. Ia
tersenyum bahagia. Ia adalah saudara kami, Ali. Lantunan nasyid seputar
pernikahan segera mengalun mengiringi para undangan yang memberikan selamat
kepada pengantin. Selain tim Nasyid Lentera, tampil pula saudara-saudara kami,
Insan Voice dan Fatwa Voice memeriahkan suasana.

Terus
terang saat pernikahan ini, saudara-saudara yang lain semakin termotivasi untuk
segera menyempurnakan setengah dien masng-masing, tidak terkecuali diri ini.
Terlebih yang usianya justru di atas Ali, atau yang sudah bekerja tetapi belom
menikah. Salah satu dari mereka menimpali, ini bagai pukulan telak!

Barokallahu
laka wa baroka a’laika Wa jama abaina kuma fii khoiri…

Ya
Allah kuatkanlah hati kami ya Allah untuk tetap istiqomah di jalan-MU dan
mampukanlah kami ya Allah untuk segera melangsungkan tali ikatan suci sebagai
penyempurna separuh agama kami ya Allah….

Amin…Ya
Robbal Alamin….