Aku iri

image

Aku iri pada kalian….
Yang menghamburkan hartanya di jalan Allah.
Berdagang dengan Rabb-nya.
Terlebih di bulan berlipatnya pahala.

Aku iri pada kalian…
Yang bersimpuh memohon ampunan Illahi.
Bertaubat dalam kesunyian diri.
Terlebih di bulan nan teramat suci. Baca lebih lanjut

Karena kata berwujud segala

wordsKetika kata selembut pisau.
Menyusup perlahan sisakan sayatan.
Mencekat suara hingga parau.
Nikmatilah…
Nikmati dengan segala irisannya.

Karena kata berwujud segala.

Tatkala kata semanis bisa.
Menyebar halus menekan nadi.
Penuhi denyut mencekik mesra.
Reguklah…
Reguk semua hingga tak bersisa. Baca lebih lanjut

Ramadhan apa kabar?

Hai Ramadhan, apa kabar mu di sana? Tak terasa hampir satu tahun kita berpisah. Tanpa suara tanpa berita.

Hai Ramadhan, bagaimana keadaanmu? Ah pastilah kau tetap cantik tak pernah berubah. Memancarkan pesona indahmu pada siapapun yang menantimu.

Hai Ramadhan, kau terasa begitu dekat, tapi aku tak tahu mampukah aku meraihmu, menggapaimu dalam pelukku. Baca lebih lanjut

Aku kan merindumu… (Ramadhan)

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua telah terencana oleh Allah sang Maha Pengatur. Demikian juga Pertemuan kita, tentulah atas ijin dari-Nya. Kuharap pertemuan kita dalam naungan Maghfiroh Allah, dalam dekapan Rahmat-Nya dan juga dalam Keagungan Cinta-Nya. Sadarkah engkau, bahwa Pesonamu tlah memaksaku tersenyum. Keindahanmu menuntutku bersyukur. Dan Kemuliaanmu menjadikan rebutan setiap insan, tak terkecuali diriku.

Wajar saja kau dinantikan oleh hamba-hamba-Nya. Yaitu hamba-hamba-Nya yang beriman. Adakah aku termasuk di dalamnya? (semoga, amin). Yaitu hamba-hamba-Nya yang diharapkan menjadi bertaqwa setelah menemuimu. Adakah aku termasuk di dalamnya? (semoga, amin). Baca lebih lanjut

Ramadhan Jangan Pergi…

Apakah aku siap hadapi perpisahan ini? Sedangkan kemesraan yg tercipta, masih ingin kurasakan lebih lama denganmu. Kau tlah ajari diri ini, Kau didik jiwa ini, Kau bimbing hati ini dengan sgala pesona & keindahanmu.

Apakah aku siap hadapi perpisahan ini? Sedangkan Aku masih haus, aku masih butuh, aku masih ingin terus belajar mencintaimu. Karna belum sempurna kumencintaimu. Maka ijinkan aku tetap mencoba mencintai, di sisa waktu kita. Dipenghabisan pertemuan kita.  Ramadhan… kembalilah lain waktu. Aku akan tetap menunggu kembalinya dirimu.

 

25 Ramadhan 1432 H / 25 Agustus 2011

Bunda aku kangen (Part#3)

Monday, August 31, 2009 at 11:36am

 

(sambungan Part#2 Ramadhan 1430 H true story)

Aku terbangun dengan seketika. Entah apa yang membuatku terbangun mendadak di malam itu. Kulihat jam di layar HP ku menunjukkan pukul 2.25 WIB, sedangkan alarm HP dua-duanya belum berdering karena ku setting pukul 2.30 WIB. Allah… inikah cara-Mu membangunkan aku? Alhamdulillah… Tiba-tiba muncul sosok tinggi besar memasuki kamarku. Ku coba memaksa melihatnya dengan mata masih sedikit perih. Oh, ternyata Edo.

”Lho sudah bangun mas?”, tanya Edo.
”Alhamdulillah…”,
balasku dengan melemaskan otot-otot tubuh.

Edo dan Susanto memang bertugas membangunkan anggota asrama yang lain malam ini. Meski sebenarnya tidak mutlak harus mereka. Siapa saja yang bangun duluan, diharapkan bisa membangunkan saudaranya yang lain.

Perlahan aku menuju tempat wudlu yang ada di samping asrama. Sebuah kran air berbahan kuningan kuputar perlahan tuas di atasnya. Segarnya air PDAM membasahi wajahku dan beberapa bagian tubuhku. Ku dengar sayup-sayup Edo dan Susanto masih berusaha membangunkan anggota asrama yang lain. Baca lebih lanjut

Ramadhan True Story (1430 H) #2: “Nggoro ya Jalmo”

Monday, August 24, 2009 at 10:10am

sambungan… (#1: “Mualaf itu bernama Edo”)

 

Aku merasakan semakin mengenal Edo lebih dekat dari perbincangan kami dalam perjalanan pulang selepas solat Maghrib. Ia memiliki seorang saudari yang masih kelas 6 SD. Uminya dalam perjalanan ke Surabaya menggunakan mobil bersama paman dan saudari kecilnya. Mereka belum pernah ke asrama Darul Insan sebelumnya, namun Edo meyakinkanku bahwa mereka janjian bertemu di depan kantor Telkom Divre V Jatim yang tidak jauh dari kampus Unesa.

Sesampainya di asrama, kupersilahkan para anggota asrama yang lain untuk saling berkenalan. Mereka tampak ceria. Tak jarang tawa renyah dan senda gurau keluar dari mulut mereka. Belum semua anggota hadir, jadi kuputuskan perlu adanya forum perkenalan tersendiri ba’da solat tarawih saja.

Kutinggalkan mereka sejenak untuk memulai tilawah di bulan Ramadhan ini. Kuputuskan mulai dari Juz pertama, meski tilawah harianku sebelumnya sudah memasuki Juz ke-26. Ya kuberi tanda pada masing-masing batas bacaan. Aku hanya merasa sangat bersemangat saat dimulai dari Juz pertama di awal Ramadhan. Lalu bagaimana dengan kelanjutan tilawah hariannya sebelumnya? Insya Allah tetap akan aku lanjutkan di bulan Ramadhan ini juga. Aku hanya ingin memulai hari pertama Ramadhan dengan awal bacaan Al-Qur’an, itu saja. Sehingga pada saatnya nanti di akhir Ramadhan, Insya Allah Khatam 2 kali persis di akhir Surat An-Naas. Semoga target tilawahku pada Ramadhan kali ini terlampaui atas izin Allah, Amin. Baca lebih lanjut

Ramadhan (1430 H) True Story #1 : “Mualaf itu bernama Edo”

 

Saturday, August 22, 2009 at 11:36pm

Sore itu diri ini tengah bergelut dengan komputer dalam kamar berukuran 3 X 3 m2 di sebuah asrama bernama Darul Insan. Tangan kananku lincah memainkan mouse berwarna orange kesana-kemari. Sementara tangan kiri di keyboard sesekali menekan tombol shortcut program Adobe photoshop. Sebuah desain kaos sedang kurancang untuk menambah koleksi desain usaha yang coba aku geluti saat ini. Ya, kaos dengan desain islami untuk muslim gaul dengan merek ”qaosqu”. Telah lama aku mengimpikan mampu menciptakan desain kaos muslim gaul dan memproduksinya. Alhamdulillah, Allah baru saja menunjukkan jalannya setelah sekian lama menanti, meski masih dalam kapasitas kecil dan modal pas-pasan.

”Mas, ada tamu di luar.. ”, kata Andi mahasiswa baru yang belum lama tinggal bersama di asrama ini.
”Oh ya, sebentar..”, kuhentikan aktivitasku dan beranjak keluar kamar.
”Assalamu’alaikum…”, sapa pemilik suara di luar begitu melihatku.
”Wa’alaikumsalam…, Rully!”, jawabku sembari memperkenalkan diri dan menjabat tangannya.
”Edo mas…”
”Oh… ya… Edo! Yang dulu nginep di sini waktu tes SNMPTN khan??”, tanyaku memastikan.
”Betul mas!”. Baca lebih lanjut

Ramadhanku…, Ramadhanmu…, Ramadhan yang kita rindu…

September 10th, 2007 by rullyaguscandra
Entah sudah berapa banyak ane mengecewakan ikhwah sekalian…
Entah sudah berapa banyak ane melakukan kesalahan…
Beribu khilaf sudah terlewatkan…
Beribu kata afwan sering pula terlontarkan…

Terkadang…

Di saat semua berlari, ane masih berjalan…
Terkadang…
Di saat semua berdiri, ane masih terkapar mengerang…
Terkadang…
Di saat semua berharap, ane mengendurkan harapan…

Saudaraku seiman…
Tiada maksud, semua itu sengaja ane lakukan…
Tiada pernah terlintas ane memperlambat garak juang…

Ane akui, masih banyak kekurangan…
Ane akui, masih banyak diperlukan pembenahan…

Saudaraku seiman…
Ingatkanlah diri ini jangan segan-segan…
Tegurlah diri ini tak perlu kalian sungkan…
Semua demi proses perbaikan…
Semua demi kemaslahatan ke depan…

Kini…Ramadhan telah datang…
Malu rasanya diri ini penuh dengan dosa2 terhutang…
Kini…bulan Suci-Nya telah singgah…
Rugi pastilah jika tak mendapatkan maaf darimu ikhwah…

Adakah pintu maaf darimu untukku..?
Masih dapatkah kuketuk pintu maafmu itu..?

Agar tenang daku di bulan yang selalu kutunggu…
Agar kita bersama bisa melaju dan berpacu…
berlomba mengharap ridho Allah yang dituju…

Ramadhanku…, Ramadhanmu…, Ramadhan yang kita rindu…