Aku Pion dalam bidak catur melebur

catur pion

Kecilku dibanding yang lain
Pendekku lebih dari yg lain
Menapak jelas ruang kotak wilayahku
Hitam ataukah putih, tiada abu-abu

Aku Pion dalam bidak catur melebur

Langkahku kecil
Tubuhku mungil
Tiada daya melaju ke depan
Kala Sang Maestro tidak mengijinkan Baca lebih lanjut

Kuperintahkan kepada kalian..!!!

Dunia,
Sudah kodratmu menarik bagi pandangan mata kami.
Maka kami mohon jangan goda mata kami memandangmu, saat kami ingin menundukkannya.
Mungkin kau tak bermaksud menggoda. Tapi kau selalu muncul di depan kami.
Kau paparkan indah pesonamu sejauh mata kami memandang. Terhampar luas.
Kami masih lemah, dunia. Kami masih belajar. Baca lebih lanjut

Terangi_Gelap_kami

Kala Terang cerahkan dunia,
Tenang makhlukNya melangkah pasti.
Menabur kesegaran aroma hayati.
Meneduhkan insan-insan dalam damai kesejukan.

Namun kenapa terkadang hanya sebentar saja?
Kenapa hanya sesaat damai itu singgah?
Bukankah dunia lebih indah saat terang itu bertahan?

Kala Gelap tutupi dunia,
Gelisah makhlukNya gontai tak terarah.
Menebar bau anyir kematian.
Merenggut damai mengoyak kesejukan.

Secepat itukah berubah?
Terang dan gelap hanya hitungan waktu.
Bergiliran silih berganti.
Tiada yang dapat menjamin pasti. Baca lebih lanjut

Hai Hati…

Hai hati…
Apa kabar iman di dirimu?

Belakangan ini, kau nampak bermuram durja.
Tida ceria, tak seperti biasanya.

Hai hati…
Apa kabar iman di dirimu?

Kau nampak kering, kau terlihat haus.
Sebentar, aku ambilkan air wudlu…

Hai hati…
Apa kabar iman di dirimu? Baca lebih lanjut

Selalu ada Cinta untuk sahabatku

Sahabatku…
Jauh sudah kuarungi jalan ini bersamamu. Jalan yang berliku, penuh  onak, duri dan terjal berbatu.

Kadang kita berlarian, tertawa riang, mengesampingkan segala beban.
Kadang kita hanya berjalan perlahan. Diam, penuh perhitungan.
Sekedar berhati-hati jika salah jalan, atau ranjau terinjak
menghancurkan.

Tak jarang pula kita tertatih, terseok, bahkan merangkak bersimbah
darah. Luka yang kian menanah. Hingga erangan sakit berkawan airmata
pasrah.

Takkan kulupa kenangan itu…

Kenangan yang selalu memaksaku tersenyum. Meski tak harus
diceritakan sekalipun. Ia telah tertanam. Dalam. Menghujam.

Sahabatku…
Mengenalmu adalah anugerah..
Memahamimu adalah seni yang indah..
dan berjuang bersamamu bagiku adalah berkah..

Sering terbesit untuk mengulangnya kembali, melanjutkan atau
menjadikannya lebih indah.

Namun jarak kian terbentang.
Waktupun semakin tak berkawan.
Kau berada di seberang, dan aku di tanah perantauan.
Satu yang tetap kuharapkan… cita dan visi kita takkan padam.
Karena perjuangan belum selesai kawan…

Kau milikNya, Allah Yang Maha Kuasa
Kau milik orang-orang yang kau cintai
Kau milik umat di sekitarmu…

Aku pun milikNya, Allah Yang Maha Perkasa
milik orang-orang yang kucintai
dan semoga tetap milik umat di sekitarku

Medan kita kini berbeda..
tantanganpun boleh jadi tak sama..
Namun asal kau tahu…
Selalu ada rindu untukmu…
Selalu ada Cinta untuk sahabatku…
Cinta murni karena Allah… Tuhan kita yang satu…

— rully agus candra –1  juni 2010 —
(*teruntuk sahabat-sahabatku yang telah menempuh hidup baru. Barokallah..^^,)

Derai Hati

Sungguh…

Kembali kutersadar…

kutak ingin merugi…

menghadapMu dengan keadaan seperti ini?

Tidak Ya Allah… aku malu padaMu…

Tidak Ya Allah…  Kau lebih mengetahuinya…

Tiada yang dapat kujelaskan padaMu…

Karena semuanya sudah sangat jelas dalam pandanganMu…

Meski  tak banyak ku ungkap…

Namun hatiku… batinku…

Ah… Kau sudah tahu itu…

Astaghfirullah…

Ampuni hamba Ya Allah…

Peluk hamba Ya Allah…

Jangan lepaskan lagi Ya Rabb…

Terima Taubatku…

–R.i.n.d.u.k.a.n._.C.i.n.t.a–

Wednesday, April 14, 2010 at 2:45pm

Telah lama mata ini kering…
Kurindu basahnya…
hangat…mengalir…perlahan…
meruntuhkan segala keangkuhan…

Jauh sudah hati ini hampa…
kuingin hadirnya…
tunduk…tenang…khusuk…
melantakkan hingar bingar dunia…

Dimana getar-getar itu…
saat kudengar ayat-ayat-Mu…
Kemana rasa takutku…
Ketika Kau panggil seluruh hamba-Mu…

Aku rindu…
tapi aku kaku…
Kumerindu…
Namun kumembeku…

Hanya ada daya-Mu
tiada lain
Hanya ada kekuatan-Mu
bukan yang lain

Izinkan tangisku pecah kembali…
memekakkan hati yang sempat tuli…
Perkenankan aku terjaga lagi…
mengenyahkan nyenyak dan pulasnya mimpi…

Meski harus kutukar dengan nikmat dunia
yang semu namun kutertipu
atau keindahan fana yang membuat terlena
menyeret manusia dalam hina dina

Aku rindu…
tapi aku kaku…
Kumerindu…
Namun kumembeku…

terima sujudku…
tampung air mataku…
balikkan hatiku…
hanya pada-Mu…

S.e.b.o.n.g.k.a.h._ r.i.n.d.u.

Friday, April 2, 2010 at 6:11pm

Tertatih diri melangkah
Dalam sepi tak bertepi
Ingin kusapa orang, namun tiada siapapun
Ingin kuketuk pintu, tapi semua terkunci rapat

Asing… Asing hening tanpa bising
Hanya desah angin…
Dan nyayian binatang malam
Menemaniku…

Sesekali hujan mampir …
Mengajak guntur dan gemuruh
Lirih hati berharap
Dalam doa kian meratap

Kapan… kapan kau datang, pulang…
Berbagi kisah seharian
Atau menikmati malam
Berburu makanan…

Terlalu sering kau pergi
Saat kusendiri…
Atau justru aku yang menghilang
Saat kau datang…

Aku tahu kita punya Dia, Yang Maha Tahu
Aku sadar kita memiliki-Nya, Yang Maha Bijaksana
Namun aku tetaplah manusia
Yang butuh perhatian dan memperhatikan
Yang perlu berbagi dan memberi
Aku yakin kaupun demikian…

Ruang-ruang itu terlalu luas untuk kita…
Waktu-waktu itu terlalu lama rasanya…
Cepatlah pulang kawan…
Cepatlah kau datang…

Ada sebongkah rindu untukmu
Ada sekotak peluk menunggumu

(Rully Agus Candra – Alone and silent – April 2010)